Cerita Pangan Lokal di Ruang Kelas: Menyemai Gizi dan Ketahanan Iklim Generasi Muda

Dinnar Diandra Anugera Tejamulyawan
Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, IPB University
Intern CIFOR-ICRAF Indonesia


Bagi Pak Erwin, Ibu Erwina, dan Ibu Resky, pangan lokal bukan sekadar slogan. Menyantap ubi dari kebun pekarangan, memetik sayur dan buah langsung dari pohonnya, memasak ikan segar yang baru ditangkap dari sungai, adalah bagian dari masa kecil mereka. Namun, bagi sebagian murid mereka, pengalaman itu terasa asing—perlahan-lahan tergeser oleh makanan instan dan produk olahan. Kini, lewat ruang kelas dan halaman sekolah, anak-anak belajar bahwa pangan lokal adalah bagian penting dalam hidup mereka.

Landscape Alliance (nama operasional baru CIFOR dan ICRAF), melalui proyek riset-aksi Land4Lives dengan dukungan pemerintah Kanada, membangun inisiatif bersama Badan Pangan Nasional serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk menghadirkan pangan lokal ke dalam kehidupan generasi muda melalui Kurikulum Muatan Lokal (Mulok) Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim. Inisiatif ini mengenalkan pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman (B2SA) melalui pengalaman belajar yang dekat dengan kebiasaan sehari-hari siswa.

Melalui kurikulum tersebut, siswa diajak mengenal dan memahami beragam jenis pangan, nilai gizinya, cara budidaya, cara pengolahan hasil kebun, cara konsumsi olahan pangan, hingga langkah pemasarannya secara berkelanjutan.

Dalam pengembangan kurikulum Mulok Pangan Lokal, Landscape Alliance berperan sebagai fasilitator teknis dan penghubung lintas pihak. Prosesnya melibatkan pemerintah daerah beserta organisasi perangkat daerah (OPD) di bawahnya, dalam hal ini Dinas Pendidikan setempat.

Kesadaran yang tumbuh perlahan

Erwin Saputra melihat sebagian besar siswa SMAN 1 Talang Ubi, Sumatera Selatan, hanya mengetahui makanan cepat saji dan makanan yang sedang viral di media sosial. Hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan serba instan dan pola konsumsi yang bergantung hanya pada satu komoditas pangan, sehingga pengetahuan tentang pangan lokal mulai ditinggalkan.

Hanya sedikit dari mereka yang tahu tentang makanan lokal, padahal semua bahan makanannya tersedia di sekitar rumah mereka. “Ya sekarang kan anak-anak kebanyakan cuma tahu soal makanan yang instan dan cepat saji ya,” ungkap Pak Erwin.

Sejak September 2025, ketika mulok pangan lokal resmi diterapkan, lebih dari 900 siswa di SMAN 1 Talang Ubi, Sumatera Selatan, telah merasakan manfaatnya. Mulok pangan lokal ini diterapkan di seluruh jenjang, mulai dari kelas 10, 11, dan 12, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan fase belajar siswa.

Bagi Pak Erwin, salah satu momen paling berkesan dari mulok pangan lokal ini adalah ketika siswa mengolah pangannya bersama-sama. Siswa mulai sadar bahwa satu bahan pangan dapat diolah menjadi berbagai macam olahan. Pak Erwin menilai proses pengolahan pangan lokal ini mendukung diversifikasi olahan pangan.

“Contohnya itu di sekolah kami tanam sawi atau caisim di kebun botani yang ada. Ketika dipanen dan diolah, siswa sadar bahwa dari sayuran sawi itu bisa diolah menjadi puding, keripik, kerupuk, bolu, dan hidangan lainnya. Ini adalah hal yang menarik karena saya senang ketika melihat siswa terkagum dengan potensi yang ada,” ungkap Pak Erwin.

Dampak pembelajaran juga mulai terasa, terutama ketika kesadaran terhadap pangan semakin meningkat. Siswa menjadi lebih terbuka terhadap konsumsi sayur-sayuran dan mulai tertarik melakukan budidaya sayuran di lingkungan sekolah hingga di rumah mereka. Bagi Pak Erwin, proses pembelajaran yang dilakukan turut membawa siswa mengenal dan memahami kearifan lokal di daerah mereka.

“Mulok pangan ini menambah kesadaran dan pemahaman kita selaku guru dan siswa tentang local wisdom atau kearifan lokal di daerah kita yang mungkin selama ini hanya ada dalam cerita saja. Olahan yang kita hasilkan bisa jadi ciri khas sekolah dan daerah sehingga branding kita lebih luas,” kata Pak Erwin.

Ke depan, Pak Erwin berharap sekolahnya tidak hanya melakukan budidaya pangan nabati, tetapi juga dilengkapi dengan kegiatan budidaya pangan hewani, salah satunya ikan. Menurut Pak Erwin, ini adalah peluang untuk mengenalkan pangan lokal kepada siswa, salah satunya sagarurung. Sagarurung merupakan olahan pangan khas daerah Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan, berupa ikan yang diasapi dan diberi bumbu sehingga menghasilkan cita rasa gurih dengan aroma asap yang khas.

Pak Erwin juga menambahkan bahwa dalam pelaksanaan mulok ini tidak perlu ada keraguan. Sebagai guru, yang terpenting adalah mendorong pemanfaatan seluruh sumber daya dan potensi yang ada sebagai sumber pembelajaran bagi siswa. Guru juga berkewajiban mendorong kesiapan siswa sebagai generasi penerus yang tangguh dan siap menghadapi masa depan di tengah perubahan iklim, termasuk isu pangan.

“Karena, pada dasarnya melestarikan olahan pangan adalah kunci ketahanan pangan,” pungkasnya.

Menanam ingatan pangan sejak dini

Di SD GMIT Soe, Nusa Tenggara Timur, mulok pangan lokal menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak. Sejak resmi diterapkan pada Juni 2025 — setelah melalui proses pengembangan sejak awal tahun 2024 — pembelajaran ini telah dirasakan oleh lebih dari 200 anak di fase C (kelas 5 dan kelas 6).

Di depan ruang kelas, bedengan kecil telah disiapkan, dan di sanalah anak-anak menanam kacang-kacangan, sawi hijau, timun, jagung, hingga ubi jalar. Sementara itu, di kebun belakang, siswa menanam labu kuning dan pisang luang yang tumbuh perlahan mengikuti musim. Erwina Teloni, guru sekaligus anggota tim pengembang kurikulum mulok pangan lokal, mengungkapkan bahwa kebun yang ada menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal pangannya sendiri.

Yang paling berkesan bagi Ibu Erwina – demikian para siswa memanggilnya – ialah momen ketika anak-anak kelas 5 dan kelas 6 mengolah jagung bose: membersihkan jagung utuh, memasaknya, hingga menyajikannya di piring mereka sendiri. Kegiatan ini sederhana, tetapi jarang mereka alami sehingga berharga nilainya. “Mereka terlihat sangat bersemangat saat memakan hasil masakannya sendiri,” tuturnya.

Pembelajaran mulok pangan lokal ini sejalan dengan semangat tema program “makananku, budayaku”, yang mengajak siswa mengenal pangan lokal sebagai bagian dari keragaman budaya daerah. Semangat itu bahkan menular hingga ke rumah mereka. Banyak orang tua datang ke sekolah, membawa kamera, dan memotret anak-anaknya memasak hingga menikmati hasil olahannya.

Ibu Erwina melihat perubahan kecil yang ia yakin akan terkenang oleh anak-anak. “Apa yang diajarkan kepada anak-anak sejak mereka kecil itu akan terbawa hingga mereka besar dan menjadi pengetahuan yang sangat berharga untuk mereka,” ungkap Ibu Erwina.

Kini, anak-anak sadar bahwa bahan pangan di sekitar mereka bisa diolah menjadi makanan yang tidak kalah enak dari yang biasa mereka jumpai. Menurut Ibu Erwina, tantangan dari penerapan mulok pangan lokal ini adalah menjaga konsistensi dan komitmen agar mulok ini tidak terasingkan dari fase pertumbuhan anak.

Ibu Erwina juga berharap mulok pangan lokal ini dapat menjadi sumber pembelajaran sederhana yang menjadi bekal bagi anak-anak ketika tumbuh dewasa, baik untuk dunia kerja maupun lingkungan tempat mereka berada.

Semangat ketahanan pangan dari pesisir

Mulok pangan lokal tumbuh dari ruang yang terbatas dan unik di SMPN 7 Watampone, Sulawesi Selatan. Mulok pangan lokal diuji coba pada akhir tahun 2024, resmi diterapkan penuh pada 2025, dan kini telah dirasakan oleh lebih dari 400 siswa. Karena keterbatasan lahan, kegiatan budidaya pangan tidak selalu dilakukan di tanah. Beberapa jenis sayuran jangka pendek, seperti cabai, sawi, terong, dan kangkung, ditanam dengan sistem hidroponik di sudut sekolah. Tantangan lain yang menuntut guru dan siswa untuk kreatif adalah kondisi lingkungan sekolah yang dekat dengan rawa dan pantai.

Ketika musim tanam tiba dan terjadi hujan yang cukup deras, sayuran yang ditanam biasanya terkena banjir sehingga hasil tanamnya gagal.

Di SMPN 7 Watampone, mulok pangan ini dilakukan dengan cara yang unik, yaitu dilaksanakan secara kokurikuler dalam sistem blok selama tiga minggu penuh tanpa gangguan dari mata pelajaran lain.

Di sekolah, siswa diberi ruang untuk berkreasi dalam mengolah berbagai bahan pangan lokal, mulai dari ubi, labu, sukun, pisang, hingga jagung, menjadi olahan tradisional. Salah satunya adalah barobbo, olahan jagung dengan campuran sayuran yang bagi sebagian siswa merupakan makanan yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.

Resky Januarty, guru sekaligus bagian dari tim pengembang mulok pangan lokal, melihat pelajaran ini tidak hanya berdampak pada siswa tetapi juga guru dan orang tua murid. “Kita harus belajar lagi soal tanaman, sayuran, dan pangan hewani, termasuk nilai gizi, cara memasak, hingga cara menyajikannya,” kata perempuan yang akrab dipanggil dengan sapaan “Ibu Resky” ini.

Perlahan, dampak dari mulok pangan ini terlihat. Setiap hari Jumat, siswa mulai membawa bekal sarapan yang menerapkan prinsip B2SA. Mereka bahkan mulai saling berkomentar tentang bekal temannya ketika makanan yang dibawa kurang mengandung sumber protein, karbohidrat, atau vitamin.

Bagi Ibu Resky, perubahan kecil ini terasa sangat berharga. Di tengah gempuran makanan instan, siswa mulai membangun kecintaan pada budaya pangan lokal di tempat mereka tumbuh. Dalam kurikulum mulok pangan lokal yang ada, konsep pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman diajarkan melalui contoh nyata yang ada di sekitar mereka. Pendekatan ini membuat gizi tidak lagi terasa rumit; gizi hadir dalam bentuk pangan yang akrab dengan keseharian siswa.

Ibu Resky juga berharap kurikulum mulok pangan lokal untuk ketahanan iklim ini kelak didukung penuh dan diterapkan lebih luas secara nasional dengan legalitas yang kuat dari pemerintah pusat. Ia percaya bahwa sekolah-sekolah seperti SMPN 7 Watampone, bersama sekolah-sekolah lainnya, dapat menanamkan kesadaran pangan lokal kepada generasi muda Indonesia.

Mulok pangan lokal sebagai model replikasi

Landscape Alliance menginisiasi Mulok Pangan Lokal sebagai bagian dari proyek riset-aksi Sustainable Landscape for Climate Resilient Livelihood (Land4Lives) yang dilaksanakan di Provinsi Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatera Selatan. Dalam prosesnya, kurikulum ini dikembangkan bersama-sama dengan Dinas Pendidikan di Kabupaten Bone (Sulsel), Timor Tengah Selatan (NTT), dan Provinsi Sumatera Selatan.

Kerja sama antara Landscape Alliance, pemerintah daerah, dan Dinas Pendidikan setempat dilakukan melalui tujuh langkah dalam proses penyusunan kurikulum mulok pangan lokal. Ketujuh langkah tersebut membentuk siklus yang saling berkaitan, dimulai dengan membangun pemahaman dan komitmen bersama di antara seluruh pemangku kepentingan sebagai langkah fundamental. Tahapan kemudian berlanjut melalui identifikasi kebutuhan dan perancangan kurikulum yang sesuai, pengembangan materi ajar, uji coba di sekolah-sekolah percontohan, evaluasi secara kolaboratif, hingga akhirnya mencapai tahap pengesahan dan implementasi masif di seluruh wilayah.

Seiring hasil positif yang didapatkan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) tertarik untuk mendorong mulok pangan lokal ini agar dijadikan model praktik yang dapat direplikasi di daerah lain. Kerja sama lebih lanjut kemudian diwujudkan melalui penerbitan Panduan Penyusunan Kurikulum Muatan Lokal Pola Konsumsi Pangan B2SA dan Pangan Lokal. Panduan ini bersifat adaptif dan bukan merupakan kurikulum baku, sehingga dapat dijadikan pedoman bagi pemerintah daerah lain sesuai kebutuhan.

Landscape Alliance terlibat langsung dalam penyusunan panduan kurikulum bersama Badan Pangan Nasional, termasuk dalam sosialisasinya kepada Dinas Pendidikan dan Dinas Ketahanan Pangan se-Indonesia. Dalam perjalanannya, pengalaman dari tiga provinsi dampingan Landscape Alliance direpresentasikan sebagai contoh baik, sehingga daerah lain dapat mereplikasi dan mengembangkan muatannya sesuai dengan konteks wilayah masing-masing.

Kini, pekerjaan rumah berikutnya ada di tangan pemerintah daerah dan sekolah-sekolah lain di seluruh Indonesia: melanjutkan langkah yang sama, agar semakin banyak generasi muda tumbuh dengan pangan yang beragam, bergizi, aman, dan berakar pada tanah kelahirannya sendiri.


Artikel ini ditulis oleh mitra kerja dan diterbitkan dengan izin yang bersangkutan. Pandangan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mewakili pandangan resmi CIFOR-ICRAF Indonesia.