Mulok Pangan Lokal: Ketika Jagung Bose dan Se’i Sapi Masuk Ruang Kelas di Timor Tengah Selatan

Setiap Kamis, suasana kelas 6A SD GMIT 01 Soe di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, berubah dari ruang belajar biasa menjadi dapur bersama. Murid-murid dibagi ke dalam kelompok, sebagian menumbuk jagung putih di lesung, sebagian lain memilah sayuran atau menyiapkan daging sapi untuk dipanggang. Hari itu mereka belajar membuat tiga hidangan khas Timor: jagung bose, se’i sapi, dan sambal luat. Semua dikerjakan dengan peralatan tradisional seperti lesung, nyiru, dan tungku kayu.

Yang mereka jalani bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan mata pelajaran resmi bernama Muatan Lokal (Mulok) “Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim”. TTS tercatat sebagai kabupaten pertama di NTT yang memiliki kurikulum semacam ini, dan kini menjadi contoh bagaimana pendidikan formal dapat dipakai untuk menjaga pengetahuan pangan yang selama ini nyaris hanya diwariskan lewat cerita lisan.

Kenapa Pangan Lokal Masuk Kurikulum

Gagasan ini lahir dari kegelisahan yang cukup mendasar. Produksi pangan adalah salah satu sektor yang paling terdampak perubahan iklim, baik dari sisi ketersediaan maupun akses. Salah satu cara beradaptasi adalah memanfaatkan pangan lokal, karena jenis pangan ini sudah lama beradaptasi dengan cuaca dan kondisi iklim setempat sehingga lebih tahan banting saat kondisi darurat. Pangan lokal juga lebih dekat dan mudah diakses, tidak melalui pengiriman jarak jauh sehingga lebih segar dan bergizi, serta membantu menggerakkan perekonomian dan mempererat hubungan komunitas.

Masalahnya, pengetahuan tentang pangan lokal selama ini diwariskan lewat budaya bertutur antargenerasi, sehingga rawan hilang karena tidak terdokumentasikan dengan baik. Generasi muda pun semakin asing dengan jenis-jenis pangan di sekitar mereka dan cenderung menganggap pangan impor lebih modern dan bergengsi.

Untuk menjawab persoalan itu, Landscape Alliance (nama operasional baru CIFOR dan ICRAF) melalui riset-aksi Land4Lives, yang didukung pemerintah Kanada, bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS mengembangkan kurikulum ini sejak Maret 2024. Selain di TTS, inisiatif serupa juga dikembangkan di Kabupaten Bone (Sulawesi Selatan) untuk jenjang SD dan SMP, serta di Sumatera Selatan untuk jenjang SMA/SMK.

Inisiatif ini sejalan dengan sejumlah kebijakan nasional, antara lain UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, Permendikbud No. 79 Tahun 2014 tentang Muatan Lokal, dan Perpres No. 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal.

Empat Elemen, dari Kebun Sampai Meja Makan

Kurikulum mulok pangan lokal dibangun sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri, dengan perangkat ajar lengkap: tujuan mata pelajaran, capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran, alur capaian pembelajaran, hingga bahan ajar. Materinya diajarkan pada fase C (kelas 5-6 SD) dan fase D (kelas 7-9 SMP), satu kali seminggu.

Ada empat elemen pembelajaran yang diajarkan dengan tingkat kedalaman berbeda sesuai jenjang: observasi dan eksplorasi pangan lokal, budidaya, pengolahan makanan, dan penyajian. Siswa mula-mula dikenalkan pada berbagai jenis tanaman dan hewan pangan di sekitar rumah mereka beserta manfaat gizinya, lalu belajar menanam dan merawat tanaman pangan secara ramah lingkungan, dilanjutkan dengan cara mengolah dan mengawetkan bahan pangan, hingga akhirnya belajar menyajikannya dengan menarik dan bergizi. Di SMP Negeri 2 Soe, misalnya, siswa terlibat langsung mengelola kebun sekolah dari menanam, merawat, sampai memanen.

Prosesnya sendiri disusun dalam tujuh tahap sejak Maret 2024 hingga peluncuran: penguatan pemahaman bersama, identifikasi kebutuhan dan konteks, penyusunan kurikulum, pengembangan bahan ajar, uji coba di sekolah contoh, evaluasi bersama, dan terakhir pengesahan serta implementasi. Sebanyak 39 orang dari dinas pendidikan, pengawas, kepala sekolah, guru, dan mitra pembangunan dilibatkan sebagai tim pengembang kurikulum, disahkan lewat Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan TTS.

Hasil Uji Coba dan Peluncuran

Kurikulum ini diuji coba di 20 SD dan 10 SMP selama beberapa bulan sebelum resmi diberlakukan. Berdasarkan monitoring dan evaluasi pada November-Desember 2024, sebanyak 839 siswa SD dan 802 siswa SMP telah menerima materi ini. Tim ahli menilai buku bahan ajar SD mendapat skor 77,5 persen dan buku SMP 79 persen — dinyatakan layak dilanjutkan dengan sejumlah perbaikan minor.

Di SMPN 1 Mollo Utara, uji coba selama enam bulan melibatkan 446 murid yang terlibat langsung dari persiapan lahan, penanaman, panen, hingga pengolahan menjadi berbagai panganan bergizi. Kepala sekolahnya, Rini Elita Liem, mencatat tingkat kesukaan anak terhadap pangan lokal meningkat setelah diolah dengan variasi baru — misalnya pisang yang biasanya hanya direbus, kini digoreng jadi keripik. Anak-anak pun berangsur meninggalkan makanan kurang sehat seperti mi instan.

Pada 11 Juni 2025, kurikulum ini resmi diluncurkan oleh Wakil Bupati TTS Johny Army Konay dan mulai berlaku di seluruh 503 SD dan 147 SMP di kabupaten itu sejak tahun ajaran 2025/2026, didukung peraturan bupati sebagai payung hukumnya.

Dampak yang Terasa Sampai Rumah

Perubahan paling nyata justru terlihat di rumah para siswa. Selfince Ully, salah satu orang tua siswa di SD GMIT 01 Soe, menceritakan anaknya kini gemar makan singkong, ubi jalar, jagung, dan pisang dari sekitar rumah — sesuatu yang tidak terjadi sebelum ada mulok ini. Orang tua lain, Janse Beukliu, menilai pelajaran ini mengikis rasa malu anak-anak membawa bekal berbahan pangan lokal; kini mereka justru bangga menunjukkannya di depan umum. Ada pula manfaat ekonomi: keluarga jadi lebih sering memasak dari hasil kebun sendiri ketimbang membeli, sehingga menghemat pengeluaran.

Erwina Telnoni, guru SD GMIT 01 Soe yang juga menjadi tim pengembang kurikulum, mengenang momen ketika siswa kelas 5 dan 6 mengolah jagung bose dari bahan mentah hingga tersaji di piring mereka sendiri. Baginya, apa yang diajarkan kepada anak-anak sejak kecil akan terbawa hingga dewasa dan menjadi pengetahuan berharga di kemudian hari.

Menurut Arizka Mufida, koordinator pengembangan mulok pangan lokal dari Landscape Alliance, tujuan besarnya adalah menjadikan pangan lokal sebagai pengetahuan formal yang terdokumentasi di sekolah, bukan lagi sekadar cerita turun-temurun. Program ini menunjukkan hasil yang menggembirakan: dari lebih 12.000 siswa yang mengikuti uji coba kurikulum di tiga provinsi mitra (NTT, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Selatan), tercatat peningkatan pengetahuan siswa sebesar 54,7 persen, dengan lebih dari 265 guru pelopor yang ikut terlibat dalam penyusunan dan uji coba.

Tentu masih ada tantangan yang perlu dibereskan, mulai dari penjadwalan mata pelajaran, keterbatasan lahan dan sarana praktik di sekolah, sampai belum semua guru memiliki latar belakang yang sesuai. Namun apa yang terjadi di kelas 6A SD GMIT 01 Soe menunjukkan arah yang jelas: pangan lokal, yang dulu nyaris dianggap kampungan, kini justru menjadi sumber kebanggaan generasi baru NTT.

Keberhasilan model ini di TTS turut menjadi salah satu contoh baik yang mendasari langkah lebih besar. Setelah melihat hasil positif penerapan kurikulum di tiga provinsi dampingan, Badan Pangan Nasional kini menggandeng Landscape Alliance untuk mendorong replikasi Mulok Pangan Lokal ke daerah-daerah lain di Indonesia, salah satunya melalui penyusunan Panduan Penyusunan Kurikulum Muatan Lokal Pola Konsumsi Pangan B2SA dan Pangan Lokal yang bersifat adaptif, sehingga dapat disesuaikan oleh pemerintah daerah lain dengan konteks dan kebutuhan wilayah masing-masing — dengan pengalaman TTS sebagai salah satu rujukan praktik baiknya.

Referensi


  1. Hasugian, Rita. “#PerempuanRawatBumi: Belajar Pangan Lokal dari Sekolah di Soe.” KatongNTT, 21 Agustus 2025. https://katongntt.com/perempuanrawatbumi-belajar-pangan-lokal-dari-sekolah-di-soe/
  2. Pati Herin, Fransiskus. “Timor Tengah Selatan Luncurkan Kurikulum Pangan Lokal Pertama di NTT.” Kompas, 11 Juni 2025. https://www.kompas.id/artikel/kurikulum-pangan-lokal-pertama-di-ntt
  3. Ekadinata, Andree; Mufida, Arizka; Fortuna, Balgies Devi; Nafsiyah, Nurhayatun; Anugerah, Pijar Riza. Taklimat Edisi Pangan dan Gizi #01 – Mulok “Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim” untuk siswa SD dan SMP di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Bogor: CIFOR-ICRAF Program Indonesia, 2025. https://lahanuntukkehidupan.id/wp-content/uploads/2025/06/Taklimat-Pangan-dan-Gizi-01.pdf
  4. Ekadinata, Andree; Mufida, Arizka; Fortuna, Balgies Devi; Nafsiyah, Nurhayatun; Lusiana, Betha. “Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim: Membangun Kurikulum Muatan Lokal Untuk Generasi Masa Depan.” Materi presentasi Webinar Kurikulum Mulok Pola Konsumsi Pangan B2SA dan Pangan Lokal, 10 September 2025.
  5. “Cerita Pangan Lokal di Ruang Kelas: Menyemai Gizi dan Ketahanan Iklim Generasi Muda.” Landscape Alliance (CIFOR-ICRAF), 2025. https://lahanuntukkehidupan.id/blog/cerita-pangan-lokal-di-ruang-kelas-menyemai-gizi-dan-ketahanan-iklim-generasi-muda/