January 1, 2025

Cerita dari Desa #13: Semangat gotong-royong kelompok petani wanita di Desa Mangsang

Wulandari Sapitri
Mahasiswa Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan


Seri Cerita dari Desa menampilkan potret kehidupan petani yang ditulis oleh mahasiswa peserta program Muda-Mudi Peduli Pertanian Cerdas Iklim Land4Lives, berdasarkan pengalaman mereka mendampingi petani beradaptasi dengan dampak perubahan iklim.


Foto perayaan 10 tahun KWT Tri Mandiri (Wulandari Sapitri/ICRAF Indonesia)

Di sebuah desa bernama Mangsang, tepatnya di Dusun 2, terdapat Kelompok Wanita Tani (KWT) yang bernama Tri Mandiri atau biasa disingkat dengan KWT Tri Mandiri. Kelompok Wanita Tani adalah kelompok tani yang anggotanya para perempuan yang melaksanakan usaha di bidang pertanian. 

Desa Mangsang adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. KWT Tri Mandiri didirikan sejak 2014 oleh 3 orang ibu rumah tangga yang kemudian menginspirasi nama Tri Mandiri. Adapun KWT ini memiliki visi untuk pemberdayaan perempuan dalam memajukan bidang pertanian khususnya di Desa Mangsang. 

Saat ini total seluruh anggota KWT Tri Mandiri adalah sebanyak 29 orang yang merupakan ibu rumah tangga. Kegiatan utama KWT Tri Mandiri saat ini terfokus pada penataan ulang dan penanaman kembali sayuran di demplot serta memulai strategi pemasaran produk makanan baru. 

Hal yang menarik dari KWT Tri Mandiri ini adalah besarnya rasa semangat gotong royong, antusias ketika belajar hal baru, dan kerukunan sesama anggotanya yang patut untuk dicontoh. Kegiatan awal yang dilakukan setelah KWT Tri Mandiri ini terbentuk yaitu menentukan pengurus kemudian dilakukan rapat kerja (raker) setiap bulannya sebagai wadah evaluasi anggota dan platform untuk berbagi pengetahuan, keterampilan dan teknik pertanian yang berkelanjutan demi meningkatkan kapasitas anggota mereka. 

Tak disangka organisasi yang dibentuk dengan diawali niat yang baik dan disambut antusias oleh masyarakat, kini sudah sangat berkembang serta terus memberikan manfaat terutama di bidang pertanian dan ketahanan pangan bagi masyarakat, khususnya di Desa Mangsang. Dengan adanya demplot sayuran KWT Tri Mandiri, masyarakat sekitar tidak perlu pergi jauh untuk membeli sayuran segar dan bergizi .           

Kesuksesan bertani KWT Tri Mandiri dalam 10 tahun dapat dilihat dari keberhasilannya dalam mendirikan demplot seluas 25 x 50 meter yang ditanami dengan berbagai jenis sayuran, seperti kangkung, cabe, berbagai jenis terong, berbagai jenis bayam, kacang panjang, pare, timun, buncis, gambas, labu parang, katuk, singkong, kemangi, ubi jalar, kacang tanah, labu kuning, kecipir, seledri, pakcoy, sawi caisim, lenca, bayam merah, tomat, kencur, kunyit, daun bawang dan serai. 

Tidak hanya sayuran namun beberapa jenis buah seperti pisang dan ciplukan juga berhasil ditanam dan dipasarkan. Semangat gotong royong dari ibu-ibu anggota KWT Tri Mandiri menjadi dasar kesuksesan mereka yang berhasil mencuri perhatian, dukungan serta bantuan dari berbagai lembaga seperti Dinas Ketahanan Pangan, PT. RHM (Rimba Hutani Mas) Jambi dan Bank Indonesia. 

Perempuan anggota KWT Tri Mandiri berpose bersama hasil panen mereka. (Wulandari Sapitri/ICRAF Indonesia)

Selain itu melalui koperasi simpan pinjam dan usaha sayuran yang mereka kelola bersama, KWT ini membantu meningkatkan pendapatan rumah tangga, pemberian bantuan kepada anggota yang terkena musibah, aktif kegiatan sosial seperti berbagi sembako setiap tahunnya serta mereka juga  mempromosikan praktik pertanian organik dan pengolahan makanan lokal seperti getuk, opak dan keripik singkong.

Peran ICRAF dalam kesuksesan kelompok tani KWT Tri Mandiri ini adalah dengan memberikan pelatihan pada sekitar 18 orang anggota KWT Tri Mandiri yang menjadi anggota kelompok belajar ICRAF dengan nama “Kreatif Sukses Desa Mangsang”.

ICRAF, melalui kegiatan riset-aksi Land4Lives, mengajarkan sistem pertanian cerdas iklim dimulai dengan pembuatan kompos untuk mengurangi biaya pembelian pupuk dasar atau pupuk kandang. Pupuk kompos yang terbuat dari sisa-sisa limbah rumah tangga dan sayur-sayur demplot yang rusak atau busuk akibat terserang hama, daun-daun kering, kotoran ternak salah satu anggota KWT dan ditambah mikroorganisme lokal sebagai bakteri pengurai. 

Anggota KWT Tri Mandiri merawat kebun mereka dengan semangat. (Wulandari Sapitri/ICRAF Indonesia)

Selain itu pembelajaran mengenai Pupuk Organik Cair (POC) juga berhasil diterapkan di demplot sayuran KWT Tri Mandiri, dimana biasanya tanaman demplot jarang dipupuk setelah ditanam dan hanya diberi racun hama atau pestisida. Kini dengan adanya pupuk organik cair yang terbuat dari air cucian beras (yang biasanya dibuang), daun kelor, daun gamal dan diberi tambahan EM4 sebagai mikroorganisme pengurai kini bisa dimanfaatkan serta memperoleh hasil panen yang lebih baik.

Pembelajaran yang diberikan oleh ICRAF tidak hanya bermanfaat bagi KWT Tri Mandiri, tapi juga bagi anggota-anggota kelompok belajar lainnya. Salah satu anggota kelompok belajar Desa Mangsang yang juga koordinator KWT Tri Mandiri, Ibu Susmiati dan suaminya Pak Parlan, juga berhasil menerapkan pupuk organik cair yang diajarkan oleh ICRAF tersebut di kebun sawit miliknya yang membuat tanamannya menjadi subur dan tidak mengalami trek bahkan hasil panen jauh lebih baik dari sebelum diberi pupuk organik cair dari daun kelor ini sehingga menekan pengeluaran pembelian pupuk. 

Pak Parlan dan hasil panennya (Wulandari Sapitri/ICRAF Indonesia)

Pak Parlan sampai saat ini sudah  menyiapkan stok 2 drum besar POC daun kelor khusus untuk kebun pribadi miliknya. Selain itu pembuatan pestisida nabati berbahan dasar daun sirsak untuk penanggulangan serangan hama yang diajarkan oleh ICRAF juga berhasil diterapkan dengan baik oleh Ibu Susmiati di kebun dapur miliknya. 

Pestisida nabati yang berbahan dasar daun sirsak dan sabun cuci piring ini berhasil membuat tanaman terong dan cabai terhindar dari serangan hama ulat dan siput yang biasanya aktif memakan tanaman tersebut karena kandungan dari daun sirsak yang memiliki khasiat sebagai penolak makan hama.

Pembuatan pupuk kompos di kebun belajar (Wulandari Sapitri/ICRAF)

Untuk pengembangan KWT Tri Mandiri ke depannya, ada harapan dari seluruh anggota KWT Tri Mandiri yang diungkapkan mereka melalui perayaan acara ulang tahun KWT Tri Mandiri yang ke 10 tahun pada hari Rabu, 03 Juli 2024 yaitu ingin melakukan sistem budidaya tanpa menggunakan tanah contohnya hidroponik untuk meningkatkan produksi sayurannya, akan tetapi saat ini belum bisa diterapkan karena belum memiliki cukup modal untuk mendirikan sebuah rumah kaca tempat melakukan budidaya hidroponik tersebut. 

Besar harapan, semangat dan cita-cita seluruh anggota KWT Tri Mandiri akan hadirnya budidaya hidroponik yang dapat memberikan manfaat peningkatan produksi sayuran di demplot sayuran mereka sehingga bisa menjadi pusat pengembangan sayuran di tingkat Desa Mangsang, maupun yang lebih luas lagi.


Baca artikel lainnya dalam seri Cerita dari Desa