May 31, 2025

Cerita dari Desa #31: Dari limbah jadi uang – Mengolah sekam padi di Ganesha Mukti

Axel Christian Sirait
Mahasiswa Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan


Seri Cerita dari Desa menampilkan potret kehidupan petani yang ditulis oleh mahasiswa peserta program Muda-Mudi Peduli Pertanian Cerdas Iklim Land4Lives, berdasarkan pengalaman mereka mendampingi petani beradaptasi dengan dampak perubahan iklim.


Arang sekam yang dihasilkan dari limbah sekam padi. (Foto: Axel Christian Sirait)

Limbah pertanian merupakan hasil buangan dari kegiatan pertanian yang sering kali diabaikan dan tidak dimanfaatkan. Limbah pertanian yang tidak dikelola dengan dapat berdampak negatif pada lingkungan sekitar dan kesehatan masyarakat.

Salah satu limbah pertanian yang sering ditemukan dan diabaikan di Desa Ganesha Mukti adalah sekam padi. Sekam padi merupakan kulit luar padi yang telah diproses setelah padi ditumbuk dan bulir berasnya diambil. Sekam padi yang telah dikumpulkan biasanya akan dibakar yang hanya akan menyisakan abu.

Dari sekam padi jadi arang dan 'asap cair'

Petani yang dikenal dengan nama Mbah Harjo dan adiknya, Mbah Sarikun, mengolah sekam padi menjadi arang sekam dan asap cair dari limbah sekam padi dalam beberapa bulan terakhir. Kakak-beradik itu terinspirasi untuk melakukannya setelah mengikuti kelompok belajar yang dibimbing oleh CIFOR-ICRAF Indonesia melalui riset-aksi Land4Lives, tempat mereka mendapat kesempatan untuk bertukar ilmu dan berbagi pengalaman bersama beberapa petugas lapangan yang ahli di bidangnya.

Metode yang dipakai oleh Mbah Harjo dan Mbah Sarikun untuk mengolah limbah sekam padi yaitu mengubah sekam padi menjadi arang sekam. Sekam padi dibakar dalam kondisi terkendali untuk menghasilkan arang sekam. Proses ini tidak hanya mengurangi volume limbah tetapi juga menghasilkan produk yang dapat digunakan sebagai pupuk dan media tanam.

Foto penulis bersama Mbah Harjo (kanan) dan Mbah Sarikun (kiri). (Foto: Axel Christian Sirait)

Dalam pemrosesan limbah sekam padi menjadi arang sekam, Mbah Harjo dan Mbah Sarikun menambah alat yaitu cerobong asap. Selama proses pembakaran, asap yang dihasilkan dialirkan melalui sistem pipa. Asap yang telah dialirkan akan mengalami proses kondensasi, di mana gas akan berubah bentuk menjadi cair. Asap yang telah mengalami proses kondensasi dikumpulkan melalui ujung corong pipa dengan wadah/kaleng -- ini disebut "asap cair".

Pada tahap produksi jumlah produk arang sekam yang dapat dihasilkan berjumlah 8 hingga 10 karung (ukuran 50 kg) arang sekam dan 10 botol (ukuran 1,5 liter) asap cair. Harga dari satu karung arang sekam yaitu Rp50.000 dan satu botol asap cair yaitu Rp100.000. Sehingga keuntungan untuk satu kali produksi adalah sekitar Rp 500.000 untuk arang sekam dan Rp 1.000.000 untuk asap cair.

Beberapa petani telah membeli dan mengaplikasikan produk yang dihasilkan. Petani yang telah menggunakan asap cair puas dengan hasil yang digunakan. Hama yang telah mengganggu tanaman mereka selama ini berkurang setelah menyemprotkan asap cair. Imbauan yang diberikan oleh Mbah Harjo dalam penggunaan asap cair adalah penyemprotan asap cair bagusnya dilakukan 2-3 kali dalam seminggu supaya mendapatkan hasil yang maksimal.

"Asap cair", dihasilkan dari pemrosesan limbah sekam padi menjadi arang sekam, dapat digunakan sebagai pestisida alami. (Foto: Axel Christian Sirait)

Adapun kendala yang dialami Mbah Harjo dan Mbah Sarikun yaitu terdapat pada dana yang dikeluarkan untuk transportasi mengangkut limbah sekam padi ke tempat produksi. Kurangnya peminat untuk membeli arang sekam dan asap cair di dalam desa juga merupakan salah satu kendala Mbah Harjo dan Mbah Sarikun dalam penjualan.

Walaupun demikian, Mbah Sarikun tetap bersemangat dengan selalu melakukan promosi produk arang sekam dan asap cairnya pada setiap kegiatan perkumpulan kelompok belajar yang dibina oleh ICRAF. Menurut penulis, ke depannya Mbah Harjo dan Mbah Sarikun perlu dibantu untuk memasarkan produknya ke pasar yang lebih luas.


Artikel ini ditulis oleh mitra kerja dan diterbitkan dengan izin penulis. Artikel ini mewakili pandangan pribadi penulis dan belum tentu mewakili pendapat resmi dari CIFOR-ICRAF Indonesia.

Baca artikel lainnya dalam seri Cerita dari Desa di sini