Apa itu Pertumbuhan Ekonomi Hijau?
• Pertumbuhan ekonomi hijau adalah pendekatan dalam pembangunan yang berusaha menyelaraskan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan seluruh masyarakat — termasuk masyarakat rentan dan terutama perempuan dan anak perempuan.
• Konsep pertumbuhan ekonomi hijau tidak menggantikan “Pembangunan berkelanjutan” tapi merupakan bentuk konkret dan sistematis dari penerapan pembangunan berkelanjutan.
Prinsip Pertumbuhan Ekonomi Hijau

Tahapan Proses Perencanaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau

Rencanaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Nusa Tenggara Timur

Rencana Pertumbuhan Ekonomi Hijau atau Green Growth Plan (GGP) Nusa Tenggara Timur berfokus pada sektor terbarukan berbasis lahan dan turunannya – pertanian, perkebunan, kehutanan, serta wilayah pesisir dan kelautan – sebagai sumber daya berkelanjutan.
Mengapa NTT Butuh Pertumbuhan Ekonomi Hijau (GGP)?
• Dampak perubahan iklim – seperti krisis air, longsor, dan banjir – semakin dirasakan oleh masyarakat NTT.
• Cuaca ekstrem juga telah memengaruhi produktivitas beberapa komoditas pertanian unggulan NTT, seperti padi, jagung, dan kopi.
• Sektor ekonomi tertinggi di NTT adalah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi lebih dari seperempat perekonomian wilayah (27,17%). Sektor yang menempati urutan keduanya adalah perdagangan (12,62%) sedangkan industri pengolahan masih sangat rendah (1,28%) yang menandakan masih rendahnya tingkat hilirisasi dan pengolahan hasil produksi lokal.
• Menciptakan ketangguhan iklim menjadi tantangan bagi pembangunan di NTT, terutama upaya mengatasi isu- isu strategis yang dituangkan di RPJPD: kemiskinan, stunting, kualitas sumber daya manusia.
• Sebagai provinsi yang pembangunannya banyak ditopang oleh sektor berbasis alam, NTT perlu pendekatan dalam melakukan pembangunan yang memperhatikan daya dukung lingkungan serta aspek-aspek sosial-ekonomi. Pendekatan ini perlu disepakati oleh semua pemangku kepentingan.
• Jika tidak, dikhawatirkan akan terjadi penurunan kapasitas lingkungan untuk menunjang penghidupan masyarakat maupun pertumbuhan ekonomi, meningkatkan risiko bencana serta menyulitkan NTT untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan iklim.
Modal Awal NTT Untuk Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau

Tantangan NTT Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau
• Kesadaran dan pengetahuan masyarakat serta pemangku kepentingan tentang ekonomi hijau dan manfaatnya.
• Minimnya informasi dan edukasi tentang praktik ekonomi hijau yang berkelanjutan.
• Kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang masih perlu ditingkatkan untuk mendukung program ekonomi hijau.
• Dampak perubahan iklim (seperti meningkatnya cuaca ekstrem, abrasi, banjir dan kekeringan) terhadap produktivitas sektor pertanian dan penghidupan masyarakat berbasis lahan serta pesisir dan pulau-pulau kecil.
• Tekanan kebutuhan pembangunan terhadap alih fungsi lahan, hutan dan kawasan pesisir dan berbagai ekosistem penting dan unik yang ada di NTT.
• Keterbatasan infrastruktur hijau seperti pengembangan komoditas berkelanjutan, energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, dan pengolahan limbah.
• Keterbatasan alokasi anggaran untuk program ekonomi hijau dan kurangnya akses ke sumber pendanaan hijau dari lembaga keuangan

Indikator makro Pertumbuhan Ekonomi Hijau
Dalam dokumen Rencana Induk Pertumbuhan Ekonomi Hijau Nusa Tenggara Timur, pencapaian tujuan diukur melalui perhitungan indikator makro yang memberikan gambaran kinerja pertumbuhan ekonomi, kualitas lingkungan hidup, dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkeadilan.

7 Strategi Pertumbuhan Ekonomi Hijau
Empat tujuan pertumbuhan ekonomi hijau NTT diterjemahkan kedalam tujuh strategi yang meliputi berbagai aspek pembangunan, pengelolaan bentang lahan dan penciptaan rantai nilai yang lebih baik. Masing-masing strategi memiliki capaian dambaan yang berpengaruh langsung pada indikator makro pertumbuhan ekonomi hijau.
| Strategi | Capaian Dambaan |
| Strategi 1 Tata ruang dan guna lahan berkelanjutan | 1. Alokasi tata guna lahan yang mengakomodasi pengembangan wilayah dengan pemeliharaan kawasan lindung dan kesesuaian lahan |
| 2. Alokasi perhutanan sosial melalui pemberdayaan komunitas lokal | |
| 3. Prioritasi area rehabilitasi hutan dan lahan | |
| 4. Penataan kawasan pesisir dengan pengelolaan fungsi ekologis, risiko bencana, dan pemanfaatan sumber daya alam berkelanjutan | |
| 5. Alokasi area penggembalaan dan peternakan | |
| 6. Alokasi area pengembangan agroforestri bambu | |
| 7. Perluasan terbatas perkebunan kopi | |
| Strategi 2 Penguatan kelembagaan dan peningkatan akses terhadap lima modal penghidupan yang sensitif terhadap GEDSI | 1. Pengembangan teknologi pertanian cerdas iklim |
| 2. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang unggul pada sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata | |
| 3. Peningkatan akses perizinan dan permodalan UKM dan IKM | |
| 4. Pengembangan energi terbarukan dengan prioritas daerah tertinggal |
| Strategi | Capaian Dambaan |
| Strategi 3 Optimalisasi produktivitas, diversifikasi, peningkatan daya saing dan nilai tambah sektor unggulan daerah yang berketahanan iklim | 1. Pengembangan pupuk organik |
| 2. Pengembangan sistem irigasi yang efisien | |
| 3. Pelatihan dan pendampingan petani yang menerapkan good agricultural practices (GAP) | |
| 4. Peningkatan akses pasar bagi produk pertanian | |
| 5. Pengembangan rumah potong hewan dan industri pengolahan terintegrasi | |
| 6. Pengembangan industri rumput laut ramah lingkungan | |
| 7. Pengembangan praktik pertanian cerdas iklim untuk komoditas jagung | |
| Strategi 4 Penguatan supply chain dan konektivitas ekonomi wilayah yang berkeadilan | 1. Pengembangan sistem distribusi yang efisien |
| 2. Penerapan sistem pelacakan komoditas untuk manfaat yang adil bagi petani, nelayan, buruh, dan pelaku usaha | |
| 3. Peningkatan partisipasi aktif perempuan dalam rantai nilai dengan memperhatikan kebutuhan dan aspirasi gender | |
| 4. Pengembangan infrastruktur transportasi | |
| 5. Pengembangan infrastruktur maritim | |
| 6. Pengembangan teknologi komunikasi (dan konektivitas digital) | |
| 7. Optimalisasi dan pengembangan kawasan ekonomi khusus | |
| 8. Pengembangan klaster industri dari sektor unggulan (pertanian, perikanan, pariwisata) | |
| 9. Penguatan kelembagaan koperasi, BUMDes, dan UMKM |
| Strategi | Capaian Dambaan |
| Strategi 5 Restorasi daerah aliran Sungai, lahan, hutan, pesisir dan sumber daya air | 1. Pengembangan program restorasi ekosistem di lahan terdegradasi, hutan, dan sumber daya air |
| 2. Penerapan praktik pengelolaan lahan berkelanjutan dengan agoroforestri | |
| 3. Penguatan kebijakan konservasi hutan dan sumber daya air | |
| 4. Pemberdayaan masyarakat dalam restorasi dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan | |
| Strategi 6 Pendanaan inovatif multipihak melalui mekanisme investasi dan insentif jasa lingkungan | 1. Penerapan sistem kompensasi imbal jasa lingkungan hidup (KIJLH), terutama untuk penyediaan air bersih |
| 2. Pemanfaatan imbal jasa lingkungan untuk praktik agroforestri dan pertanian berkelanjutan | |
| 3. Pengembangan jalur ekowisata yang terintegrasi | |
| 4. Transfer Anggaran Berbasis Ekologi (TAPE dan TAKE) | |
| 5. Sertifikasi pertanian dan pengelolaan komoditas unggulan | |
| 6. Pembagian manfaat ekonomi karbon |
Sinergi dengan Visi Misi Gubernur NTT
Seluruh tujuan, strategi dan capaian dambaan pertumbuhan ekonomi hijau NTT terkait erat dengan Visi Gubernur NTT yang dijabarkan dalam 7 pilar dan 10 Program Prioritas: Dasa Cita Ayo Bangun NTT. Setiap strategi pertumbuhan ekonomi hijau mendukung pencapaian program-program prioritas NTT.
| Strategi Pertumbuhan Ekonomi Hijau | Dasacita Gubernur NTT |
| Strategi 1 Tata guna lahan berkelanjutan | Dasa Cita 1: Dari Ladang dan Laut ke Pasar: Efisien, Modern dan Aman |
| Strategi 2 Penguatan kelembagaan dan peningkatan akses terhadap lima modal penghidupan yang sensitif terhadap GEDSI | Dasa Cita 4: Sejahtera bersama Jaminan Kesehatan dan ketenagakerjaan untuk masyarakat Dasa Cita 5: Posyandu Tangguh, Masyarakat Sehat dan Bebas Stunting Dasacita 6: Sekolah Vokasi Unggulan Berbasis Potensi Daerah |
| Strategi 3 Optimalisasi produktivitas, diversifikasi, peningkatan daya saing dan nilai tambah sektor unggulan daerah yang berketahanan iklim | Dasa Cita 2: Milenial dan Perempuan Motor Kreatifitas Dasa cita 3: Wisata NTT Penggerak Ekonomi Lokal |
| Strategi 4 Penguatan supply chain dan konektivitas ekonomi wilayah yang berkeadilan | Dasa Cita 1: Dari Ladang dan Laut ke Pasar: Efisien, Modern dan Aman Dasa Cita 9: Membangun NTT Digital: Akses Merata, Komunikasi Lancar |
| Strategi 5 Restorasi daerah aliran sungai, lahan, hutan, pesisir dan sumber daya air | Dasa Cita 7: Jalan, air, listrik, rumah layak huni : Mewujudkan NTT yang Sejahtera |
| Strategi 6 Pendanaan inovatif multipihak melalui mekanisme investasi dan insentif jasa lingkungan | Dasa Cita 7: Jalan, air, listrik, rumah layak huni : Mewujudkan NTT yang Sejahtera Dasa Cita 10: Ayo Bangun NTT, Kolaborasi bersama |
Penutup

• Rencana pertumbuhan ekonomi hijau provinsi NTT merupakan salah satu acuan proses pembangunan terarah yang memuat visi, outcome yang diharapkan, rumusan skenario, strategi yang disepakati, intervensi, dan ex-ante analysis yang merupakan gambaran terhadap indikator kinerja di masa yang akan datang.
• Rencana pertumbuhan ekonomi hijau disusun berdasarkan prinsip inklusivitas, integratif dengan berbagai proses pembangunan yang sedang berjalan, dan disusun berdasarkan ketersedian dan analisis data yang dapat menjawab kebutuhan
• Rencana pertumbuhan ekonomi hijau selaras dengan visi-misi Gubernur NTT (Dasa Cita AYO BANGUN NTT) dan telah diintegrasikan dengan perencanaan daerah, meliputi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD).
• Langkah implementasi dalam proses pembangunan perlu melibatkan masyarakat, private sector, lembaga keuangan, dan berbagai pemangku kepentingan lain, termasuk dalam pengembangan investasi hijau daerah.