Kupang, 28-29 Agustus 2025
Upaya mewujudkan pengelolaan bentang lahan secara menyeluruh sering kali berhadapan dengan jurang pemisah antara rencana di atas kertas dengan realitas politik dan berbagai kepentingan di lapangan. Rencana tata ruang yang dirancang secara teknokratik sering kali gagal diimplementasikan karena belum mampu menyelaraskan berbagai kepentingan, perbedaan perspektif, dan klaim atas lahan yang saling tumpang tindih dan kerap kali menimbulkan konflik di antara para pemangku kepentingan. Untuk menjembatani kesenjangan ini, diperlukan sebuah proses yang melampaui sekadar decision support bagi satu pihak, menuju sebuah negotiation support yang memungkinkan tercapainya pemahaman dan kesepakatan bersama di antara para pihak yang terlibat.
Menjawab kebutuhan tersebut, CIFOR-ICRAF Program Indonesia telah mengembangkan LUMENS (Land Use Planning for Multiple Environmental Services), sebuah kerangka kerja yang berfungsi sebagai alat bantu negosiasi bagi para pihak yang berkepentingan. Kerangka kerja ini diejawantahkan dalam bentuk perangkat lunak berbasis Geo-spasial yang memungkinkan pengguna melakukan analisis dinamika perubahan lahan dan kaitannya terhadap ekonomi berbasis lahan dan beragam jasa lingkungan secara integratif. Dengan pendekatan ilmiah dan berbasis data spasial, LUMENS dirancang untuk memfasilitasi dialog, mengeksplorasi berbagai skenario pembangunan, dan menganalisis untung-rugi (trade-off) dari setiap pilihan kebijakan secara transparan dan partisipatif. LUMENS (http://lumens.or.id/) mulai dibangun sejak tahun 2013 dan saat ini telah memiliki dikembangkan menjadi versi terkini yang memiliki berbagai perbaikan.
Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, kerangka kerja LUMENS telah diimplementasikan dalam penyusunan Rencana Induk dan Peta Jalan Pertumbuhan Ekonomi Hijau (Green Growth Plan) 2025-2045. Dalam proses tersebut, perangkat lunak LUMENS berperan penting untuk menyediakan informasi spasial terkait dinamika penggunaan lahan dan kaitannya dengan beragam jasa lingkungan serta indikator sosial-ekonomi, di mana berbagai skenario pembangunan disimulasikan untuk melihat dampaknya secara ex-ante. Seluruh analisis yang menjadi tulang punggung dokumen perencanaan tersebut (proyeksi perubahan guna lahan, dampak terhadap emisi GRK berbasis lahan, pertumbuhan ekonomi daerah (PDRB), hingga keanekaragaman hayati) dilakukan melalui pemodelan dengan LUMENS. Hasilnya adalah sebuah peta jalan yang terukur, yang memproyeksikan berbagai skenario pertumbuhan hijau. Hasil temuan dari Green Growth Plan kemudian akan dapat digunakan dalam dokumen perencanaan formal daerah seperti RPJPD, RPJMD dan RPPEG.
Sebagai tindak lanjut, dan menjadi salah satu bagian dari kegiatan Land4Lives, lokalatih perangkat lunak LUMENS ini diselenggarakan untuk memperkuat kapasitas para pihak di Nusa Tenggara Timur, khususnya bagi perencana pembangunan, dalam merencanakan dan menyusun kebijakan berbasis lahan. Lokalatih ini dirancang untuk membekali peserta dengan kemampuan teknis dan pemahaman konsep dasar dalam melakukan simulasi proyeksi perubahan penggunaan lahan. Melalui sesi hands-on yang interaktif, peserta akan dipandu secara langsung untuk mempraktikkan penyusunan beragam skenario intervensi pembangunan. Secara bersamaan, lokalatih ini diharapkan dapat menjadi relung berkomunitas bagi para pihak di Nusa Tenggara Timur untuk bertukar pandangan & ilmu dalam mendukung pengelolaan bentang lahan yang terpadu.
Tujuan utama lokalatih ini adalah untuk memperkuat kapasitas para pihak di Nusa Tenggara Timur, khususnya perencana, dalam merencanakan dan menyusun kebijakan pengelolaan bentang lahan melalui penguasaan teknis dan pemahaman konseptual simulasi skenario pertumbuhan ekonomi hijau dengan perangkat lunak LUMENS, khususnya modul simulasi skenario perubahan penggunaan lahan. Setelah merampungkan pelatihan ini peserta diharapkan mendapatkan kompetensi teknis berupa:
Kegiatan Lokalatih akan dilakukan pada:
- Hari, tanggal : Kamis-Jumat, 28-29 Agustus 2025
- Tempat : Hotel Harper, Kupang
- Waktu : 08.30 – 16.30 WITA
Tujuan pelatihan akan diwujudkan oleh beberapa kompetensi teknis dan indikator-indikator sebagai berikut:
No. | Kompetensi | Indikator Keberhasilan Pelatihan |
1 | Pemahaman dasar terhadap kerangka kerja LUMENS, khususnya modul pengembangan unit perencanaan, analisis fungsi ekosistem dan simulasi skenario pembangunan. | Peserta mampu menjelaskan elemen-elemen penting dalam menyusun unit perencanaan, analisis fungsi ekosistem dan simulasi skenario pembangunan. |
2 | Kemampuan teknis untuk melakukan analisa perubahan penggunaan lahan Nusa Tenggara Timur dalam 30 tahun terakhir menggunakan modul Pre-QuES. | Peserta mampu menghasilkan data dan laporan perubahan lahan dan menginterpretasi informasi kunci yang, antara lain, dapat berupa laju pengurangan hutan, laju penambahan kebun, perubahan luas sawah dan lain-lain. |
3 | Pemahaman terhadap konsep dasar perubahan penggunaan lahan yang didekati dengan konsep matriks transisi, faktor pemicu dan variabel prediktor. | Peserta mampu membangun skenario penggunaan lahan business-as-usual (BAU) berdasarkan data historis Nusa Tenggara Timur. |
4 | Keahlian (skill) teknis dasar untuk mempersiapkan simulasi skenario pembangunan terhadap perubahan penggunaan lahan melalui kalibrasi model menggunakan data historis dan variabel prediktor. | Peserta memahami kebutuhan data penduga perubahan lahan, proses perhitungan probabilitas perubahan penggunaan lahan dan analisisnya melalui pendekatan weight of evidence. |
5 | Keahlian (skill) teknis dasar untuk melakukan simulasi proyeksi perubahan tutupan/penggunaan lahan dalam skenario Business-as-Usual (BAU) dan menganalisis dampaknya. | Peserta dapat menghasilkan peta proyeksi tutupan/penggunaan lahan BAU untuk tahun target dan menganalisis perubahan yang terjadi, serta menghitung dampak lingkungan dan ekonomi yang mungkin terjadi. |
6 | Keahlian (skill) teknis dasar untuk merumuskan skenario intervensi pertumbuhan ekonomi hijau dengan menggunakan berbagai elemen intervensi, diantaranya matriks transisi. | Peserta dapat menghasilkan matriks transisi skenario GGP yang merupakan terjemahan dari kebijakan yang dipilih menggunakanmatriks transisi perubahan lahan untuk masing-masing unit perencanaan. |
7 | Keahlian (skill) teknis dasar untuk simulasi perubahan penggunaan lahan masa depan berdasarkan contoh skenario intervensi Pertumbuhan Ekonomi Hijau dan membandingkan hasilnya dengan proyeksi BAU. | Kelompok peserta dapat menghasilkan peta proyeksi tutupan/penggunaan lahan baru untuk skenario intervensi mereka. |
8 | Bekerja dalam kelompok untuk mengembangkan, menganalisis, dan mempresentasikan perbandingan skenario proyeksi perubahan tutupan/penggunaan lahan. | Kelompok peserta mempresentasikan cerita yang koheren yang menjelaskan skenario mereka, perubahan yang mereka buat, dan perbedaan antara peta BAU dan intervensi mereka berdasarkan indikator ekonomi dan jasa lingkungan. |