Publikasi

Semua publikasi

Booklet 2025

Suplemen Taklimat Edisi Bentang Lahan #05 - Ringkasan Rencana Pengelolaan Lanskap Mollo Noelmina, Kabupaten Timor Tengah Selatan - Bentang Lahan Berkelanjutan, Masyarakat Sejahtera dengan Mempertahankan Kearifan Lokal

Ester H Natty, Regina H Kase, Arfaksad Aoetpah, Yus Kris Hau Oni, Robinson Liunokas, Musa N H Djari, Kornelis M K Timo, Seprianus K Tualaka, Jitro Liunokas, Feri Johana, Suyanto, Andree Ekadinata, Sonya Dewi, Ni’matul Khasanah, Ira Ratna Sari, Hikmah Fajar Assiddiq, Seruni Fauzia Lestari, Yeni Fredik Nomeni, Jendri Abimelek Nenobais, Alfonsus Seran, Erlangga, Thifali Adzani, Caecilia Yulita Novia, Muhammad Fikri Fadhillah, Izhar Ashofie, Romadhona Hartiyadi, Neno To Tabelak Oematan, Mixon Mexi Kase, Marselus Nabu, Dominggus Oematan, Dhian Rachmawati

Ringkasan

Dokumen ini memaparkan kerangka tata kelola untuk Lanskap Mollo Noelmina yang membentang seluas 11.089,5 hektare di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Kawasan yang didominasi oleh 59,2% Area Penggunaan Lain (APL) dan 40,2% kawasan hutan ini merupakan rumah bagi lebih dari 18.437 jiwa yang tersebar di 12 desa. Saat ini, lanskap tersebut menghadapi krisis sosioekologis yang kompleks, mulai dari praktik pertanian tebas-bakar, penggembalaan liar, hingga konflik kepemilikan lahan dan mata air yang memicu kebakaran hutan serta bencana longsor. Minimnya infrastruktur dasar dan akses pasar turut memperburuk tingkat kemiskinan, kerawanan pangan, dan tingginya angka stunting, sehingga menuntut intervensi pengelolaan berbasis kearifan lokal secara kolaboratif untuk memulihkan fungsi ekosistem.

Untuk mengatasi kerentanan tersebut, rencana pengelolaan ini menetapkan empat pilar strategi utama yang berfokus pada pemulihan lingkungan dan peningkatan ekonomi masyarakat secara bertahap hingga tahun 2055. Strategi ini mencakup penguatan pengelolaan Perhutanan Sosial, pemulihan jasa lingkungan untuk meningkatkan debit air tangkapan hingga 15%, penerapan pertanian cerdas iklim, serta penguatan rantai nilai produk pangan unggulan. Implementasi konkretnya diwujudkan melalui model bisnis pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan pembangunan demplot agroforestri seluas 5,03 hektare yang terintegrasi dengan target FOLU Net Sink. Melalui pembudidayaan komoditas bernilai tinggi seperti kemiri, alpukat, kopi arabika, dan tanaman kayu keras di areal rehabilitasi, inisiatif ini diproyeksikan mampu menekan laju deforestasi sekaligus memberikan tingkat profitabilitas dan serapan tenaga kerja yang sangat kompetitif bagi kesejahteraan warga.

Detail publikasi

Call Number
BL00698-25
Bahasa
Indonesia

Berkas