Publikasi

Semua publikasi

Booklet 2025

Suplemen Taklimat Edisi Bentang Lahan #04 - Ringkasan Rencana Pengelolaan Lanskap Patimpeng, Kabupaten Bone - Alam Terjaga, Bencana Berkurang, dan Masyarakat Sejahtera

A Yusuf, Syamsidar, A Hendra Setiawan, Sutamin, Andi Takdir, Akifah Akhsa, Ikhwan Djufri, Arham, Erniana Andi Hori, Nurkaya, Andi Zulkifly Mallingkaan, Ade Fariq Ashar, Feri Johana, Suyanto, Andree Ekadinata, Sonya Dewi, Ni’matul Khasanah, Ira Ratna Sari, Hikmah Fajar Assiddiq, Seruni Fauzia Lestari, Muhammad Syahrir, Nur Amin Syafri, Erni, Erlangga, Thifali Adzani, Caecilia Yulita Novia, Muhammad Fikri Fadhillah, Sumilia, Hamsir, Endro Prasetio, Junaidi Hutasuhut, Pijar Anugerah

Ringkasan

Lanskap Bontocani di Kabupaten Bone, yang mencakup area seluas 12.823 hektare dan didominasi oleh 64% kawasan hutan, memegang peranan krusial sebagai daerah hulu yang menopang DAS Bila-Walanae. Meskipun memiliki potensi ekologis dan kekayaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang melimpah, kesejahteraan lebih dari 23.000 jiwa penduduk di 11 desa dalam lanskap ini masih terhambat oleh berbagai tantangan yang kompleks. Rendahnya ketersediaan infrastruktur dasar, minimnya akses pasar, maraknya alih fungsi lahan dan pembalakan liar, serta konflik tenurial membuat wilayah ini sangat rentan terhadap bencana tanah longsor, kebakaran hutan, dan kemiskinan. Menyadari urgensi tersebut, CIFOR-ICRAF melalui program Land4Lives memfasilitasi pembentukan Rencana Pengelolaan Lanskap secara partisipatif guna mewujudkan visi "Lanskap Lestari Menuju Masyarakat Sejahtera dan Berdaya Saing".

Dokumen perencanaan kolaboratif ini menetapkan lima pilar strategi utama yang ditargetkan untuk dicapai pada periode 2030-2035. Strategi tersebut meliputi: (1) pemulihan 30% area lahan kritis (sekitar 6.000 hektare) melalui penerapan teknik Konservasi Tanah dan Air (KTA); (2) perbaikan tata kelola 20 Kelompok Perhutanan Sosial; (3) penguatan rantai pasok dan nilai jual produk HHBK (seperti madu, kopi, kemiri, dan jahe); (4) pengembangan sistem agroforestri cerdas iklim di 70% lahan Areal Penggunaan Lain (APL) guna menekan 80% penggunaan pupuk kimia; serta (5) pembentukan desa wisata alam (ekowisata). Untuk menjamin tercapainya target-target tersebut, diperlukan komitmen kuat dari seluruh pemangku kepentingan—termasuk integrasi rencana ini ke dalam RPJMD—serta penciptaan iklim bisnis yang sehat, seperti pemanfaatan tegakan pinus dan jati merah sebagai tanaman penaung komoditas yang menguntungkan secara berkelanjutan.

Detail publikasi

Call Number
BL00684-25
Bahasa
Indonesia

Berkas