Publikasi

Semua publikasi

Booklet 2025

Suplemen Taklimat Edisi Bentang Lahan #04 - Ringkasan Rencana Pengelolaan Lanskap Dua Boccoe, Kabupaten Bone - Bentang Lahan Dua Boccoe Asri, Sehat, dan Lestari

A Yusuf, Syamsidar, A Hendra Setiawan, Sutamin, Andi Takdir, Akifah Akhsa, Ikhwan Djufri, Arham, Erniana Andi Hori, Nurkaya, Andi Zulkifly Mallingkaan, Ade Fariq Ashar, Feri Johana, Suyanto, Andree Ekadinata, Sonya Dewi, Ni’matul Khasanah, Ira Ratna Sari, Hikmah Fajar Assiddiq, Seruni Fauzia Lestari, Muhammad Syahrir, Nur Amin Syafri, Erni, Erlangga, Thifali Adzani, Caecilia Yulita Novia, Muhammad Fikri Fadhillah, Sumilia, Hamsir, Endro Prasetio, Junaidi Hutasuhut, Pijar Anugerah

Ringkasan

Terletak di daerah hilir DAS Bila-Walanae, Kabupaten Bone, Lanskap Dua Boccoe memiliki peran strategis sebagai penopang kehidupan bagi 20 desa dengan total luasan mencapai 5.192 hektare. Lanskap yang didominasi oleh 61,59% Areal Penggunaan Lain (APL) pertanian ini dianugerahi potensi alam yang menjanjikan, mulai dari lahan tani yang subur, keanekaragaman satwa kelelawar, hingga pesona wisata goa yang kaya akan nilai historis. Namun, praktik pertanian padi dan jagung yang masih bersifat monokultur, keterbatasan akses air bersih, pembalakan liar, serta minimnya pengembangan fasilitas ekowisata membuat potensi tersebut belum tergarap secara optimal dan bahkan memicu kerentanan terhadap longsor serta banjir kiriman. Menjawab tantangan tersebut, CIFOR-ICRAF melalui inisiatif Land4Lives memfasilitasi dialog multipihak antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat lokal untuk merumuskan Rencana Pengelolaan Lanskap guna mewujudkan visi "Bentang Lahan Dua Boccoe yang Asri, Sehat, dan Lestari".

Dokumen perencanaan kolaboratif ini memuat tiga pilar strategi utama yang ditargetkan untuk berjalan secara simultan. Pertama, perlindungan habitat satwa dan konservasi kelelawar melalui penanaman pohon buah-buahan seluas 10 ha/tahun, yang juga diproyeksikan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sebesar 5% dari pemanfaatan pupuk guano (kotoran kelelawar). Kedua, pengembangan model ekowisata terpadu (seperti di kawasan Goa Mampu) yang ditargetkan dapat meningkatkan ekonomi warga hingga 30% pada tahun 2035 melalui pengelolaan tiket dan sentra UMKM. Ketiga, transformasi sistem pertanian menuju praktik berkelanjutan—melalui agroforestri, minapadi, dan tumpangsari—guna meragamkan sumber pendapatan sekaligus menjaga stabilitas ekosistem darat dan sungai. Agar visi tersebut terwujud, integrasi rencana ini ke dalam dokumen kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) serta partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci yang tak terpisahkan.

Detail publikasi

Call Number
BL00686-25
Bahasa
Indonesia

Berkas