kegiatan

Jejak Kolaborasi Land4Lives di Nusa Tenggara Timur: Dialog Multi-Pihak dan Penutupan Kegiatan Land4Lives di NTT

Dari kebun petani sampai dokumen perencanaan provinsi, hasil kerja proyek riset-aksi ini kini menjadi milik pemerintah daerah dan masyarakat

— Proyek riset-aksi Land4Lives menandai akhir kegiatannya di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan Dialog Multipihak dan Penutupan Kegiatan Land4Lives di NTT di Kupang pada Kamis (17/9). ICRAF Indonesia, yang kini memakai nama operasional baru Landscape Alliance, menyelenggarakan acara ini bersama Pemerintah Provinsi NTT sebagai momen perpisahan sekaligus penyerahan capaian proyek kepada pemerintah daerah, mitra, dan masyarakat.

Land4Lives, atau Sustainable Landscapes for Climate-Resilient Livelihoods in Indonesia, adalah proyek kerja sama untuk perubahan iklim yang berlangsung di NTT, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Selatan sejak 2021 dengan dukungan Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada. Proyek ini bertujuan meningkatkan ketahanan pangan, pengelolaan bentang lahan, dan memperkuat penghidupan tangguh iklim, khususnya untuk kelompok masyarakat rentan dan terutama perempuan.

Land4Lives bekerja di tiga tingkat, yaitu desa, bentang lahan, dan provinsi. Di NTT, proyek ini bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dengan pendampingan di 12 desa yang tersebar di tujuh kecamatan di Kabupaten TTS. Acara di Kupang ini adalah puncak rangkaian penutupan yang dimulai dengan Rembuk Desa pada 14 September dan Dialog Multipihak di Kabupaten TTS pada 15 September 2026.

SEKILAS CAPAIAN LAND4LIVES DI NTT
12Desa dampingan di 7 kecamatan, Kab. TTS
517.125 haLahan dengan pengelolaan lebih baik & responsif gender
USD 397.259Alokasi pendanaan iklim REDD+ dari Green Climate Fund
802Peserta sekolah lapang pertanian cerdas iklim (51% perempuan)
771Kebun pekarangan keluarga
700+Perempuan diwisuda dari Sekolah Perempuan (Skol Bife)

Tiga Tingkat Perubahan

Hasil kerja Land4Lives di NTT tersebar di tiga tingkat yang saling melengkapi: kebijakan provinsi, bentang lahan, dan kehidupan sehari-hari di desa.

Di tingkat kebijakan, perubahan paling jelas terlihat pada cara pemerintah provinsi merencanakan pembangunan. Land4Lives mendampingi penyusunan Peta Jalan Pertumbuhan Ekonomi Hijau NTT menuju 2050, dengan empat skenario pembangunan. Hasil analisis tersebut, bersama kajian kerentanan iklim, menjadi masukan bagi RPJPD NTT 2025–2045 dan RPJMD Provinsi NTT. Pertimbangan iklim juga masuk ke penataan ruang. KLHS Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi NTT telah ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Saat ini, tiga dokumen KLHS dan dua dokumen RPJMD memuat hasil pendampingan proyek.

Di bidang pembiayaan iklim, proyek mendukung penyusunan usulan pembayaran berbasis hasil REDD+ dari Green Climate Fund. NTT memperoleh alokasi sebesar USD 397.259. Dana tersebut telah disalurkan kepada 15 komunitas, mulai dari kelompok usaha perhutanan sosial sampai Kampung Iklim. Sekitar 44 persen penerima manfaatnya adalah perempuan.

Pemerintah provinsi juga kini punya perangkat data sendiri. Sistem Informasi Pengelolaan Perhutanan Sosial (SIPOPS) NTT dikelola resmi oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sistem ini memuat peta area perhutanan sosial, panduan perizinan, dan promosi komoditas. Fasilitator teknis dari pemerintah daerah telah dilatih mengelola basis data tata guna lahan, dan 40 persennya adalah perempuan.

Pada skala bentang lahan, perhatian utama tertuju pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Benain dan Noelmina. Rencana pengelolaan kedua DAS sudah disahkan, masing-masing untuk 327.515 hektare dan 189.610 hektare, dan dalam proses integrasi ke perencanaan daerah. Selain kedua rencana ini, juga ada Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPH TTS seluas 137.165 hektare yang telah disahkan. Secara keseluruhan, pengelolaan lahan seluas 517.125 hektare kini lebih baik dan responsif gender.

Di desa-desa TTS, perubahan terlihat di kebun dan dapur keluarga. Sebanyak 802 orang mengikuti sekolah lapang pertanian cerdas iklim, dan 51 persen di antaranya perempuan. Praktik yang mereka pelajari bisa dilihat di 45 kebun belajar agroforestri. Selain itu, ada enam Tapak Percontohan Pertanian Cerdas Iklim (TP2CI) yang dikelola lebih dari 120 petani pelopor. Untuk pangan keluarga, kini tumbuh 771 kebun pekarangan dan 43 kebun pangan komunal. Pengetahuan tentang pangan lokal juga masuk ke ruang kelas. Kurikulum Muatan Lokal Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim telah diresmikan melalui Peraturan Bupati TTS dan disosialisasikan ke lebih dari 500 sekolah.

Proyek juga mendukung perluasan Sekolah Perempuan (Skol Bife) bersama DP3A TTS dan GMIT. Saat ini sudah terbentuk 38 kelompok dengan 174 fasilitator terlatih. Pada 15 September lalu, lebih dari 700 perempuan diwisuda.

Serah Terima dan Dialog Keberlanjutan

Dalam acara ini, laporan capaian Land4Lives Provinsi NTT diserahkan kepada Pemerintah Provinsi NTT. Pemerintah provinsi diwakili oleh Sekretaris Daerah Provinsi NTT, Fransiskus Sales Sodo. Penghargaan juga diberikan kepada organisasi perangkat daerah provinsi dan kabupaten, mitra pembangunan, serta petani pelopor.

Sekretaris Daerah Fransiskus Sales Sodo memuji berbagai hasil kerja sama ICRAF dengan pemerintah daerah melalui Land4Lives, termasuk dalam pemberdayaan masyarakat, praktik bertani berkelanjutan, dan kesetaraan gender. Menurut Sekda, Land4Lives tidak sekadar melakukan pendampingan tapi juga mengintegrasikan hasilnya ke perencanaan dan kebijakan daerah, misalnya Masterplan Ekonomi Hijau atau Green Growth Plan (GGP) serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

“Kami berharap program tidak berakhir. Pemerintah desa, pemerintah kabupaten, juga pemerintah provinsi bisa terus melanjutkan praktik baik yang sudah ada.” Fransiskus Sales SodoSekretaris Daerah Provinsi NTT

Perihal keberlanjutan, Direktur ICRAF Indonesia sekaligus Project Coordinator Land4Lives Andree Ekadinata mengatakan sejak awal tahun, pihaknya telah menyusun strategi keberlanjutan yang terstruktur — bagian utamanya adalah integrasi ke perencanaan daerah. Pembelajaran proyek juga didokumentasikan dalam berbagai publikasi seperti buku, flyer, taklimat (brief), dan sistem informasi yang diserahkan secara resmi kepada pemerintah daerah dan dapat diakses secara publik.

“Kami juga bermitra dengan organisasi masyarakat sipil lokal dan perguruan tinggi untuk meneruskan semua pembelajaran ini.” Andree EkadinataDirektur ICRAF Indonesia / Project Coordinator Land4Lives

Kepala Kerja Sama Pembangunan Kedutaan Besar Kanada Alice Birnbaum, mewakili pihak donor, menyebut Land4Lives sebagai contoh kemitraan erat antara Kanada dan Indonesia yang berfokus pada tujuan bersama: ketahanan pangan, ketangguhan iklim, dan kesetaraan gender. Untuk pertama kalinya, dalam rangkaian penutupan kegiatan Land4Lives ini Alice mengunjungi desa-desa pilot Land4Lives di Kabupaten TTS.

“Saya menyaksikan banyak hasil yang luar biasa.” Alice BirnbaumKepala Kerja Sama Pembangunan, Kedutaan Besar Kanada

Selain seremoni dan serah-terima, dialog di Kupang mempertemukan perencana daerah, akademisi, petani, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta untuk menjawab satu pertanyaan: bagaimana capaian bersama ini dilanjutkan untuk menjaga ketangguhan iklim NTT.

Peserta juga bisa mengunjungi delapan stan pameran yang menampilkan dokumen perencanaan, perangkat analisis, produk kelompok usaha, dan kisah Sekolah Perempuan.

Rangkaian penutupan Land4Lives akan berlanjut ke Sulawesi Selatan dan Sumatera Selatan pada Oktober 2026, lalu ditutup di tingkat nasional.

###

Tentang Landscape Alliance

Landscape Alliance adalah nama operasional dari Center for International Forestry Research (CIFOR) dan International Centre for Research on Agroforestry (ICRAF). CIFOR dan ICRAF adalah organisasi internasional independen dan pusat riset CGIAR. Landscape Alliance mengubah ilmu pengetahuan menjadi aksi, membuka potensi pepohonan, hutan, dan lanskap agroforestri untuk meningkatkan kesehatan planet dan kesejahteraan manusia.

Tentang Land4Lives

Land4Lives (Sustainable Landscapes for Climate-Resilient Livelihoods in Indonesia) adalah proyek kerja sama untuk perubahan iklim antara Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas dan Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada (GAC). Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan, pengelolaan bentang lahan yang peka gender, dan menguatnya penghidupan berketahanan iklim, khususnya untuk masyarakat kelompok rentan termasuk perempuan dan anak-anak perempuan. Land4Lives berjalan sejak Maret 2021 hingga memasuki fase penutupan pada 2026, di tiga provinsi: Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur. Di NTT, Land4Lives bekerja di Kabupaten Timor Tengah Selatan bersama Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten TTS.

KONTAK MEDIA
Pijar Anugerah
Staf Komunikasi ICRAF Indonesia · p.anugerah@landscapealliance.org

Agenda Kegiatan


I Pra-Acara

Registrasi peserta dan pembukaan pameran

08.00 – 09.00 WITA

II Pembukaan dan Seremonial

Pembukaan

09.00 – 09.05 WITA

Menyanyikan Lagu Indonesia Raya

09.05 – 09.10 WITA

Pembacaan Doa

09.10 – 09.13 WITA

Pemutaran Video Sorotan Capaian Land4Lives Provinsi

09.13 – 09.15 WITA

Sambutan Pengantar dan Pembukaan Resmi

09.15 – 09.45 WITA
Andree Ekadinata
Andree Ekadinata
Direktur ICRAF Program Indonesia-Landscape Alliance
Alice Birnbaum
Alice Birnbaum
Kepala Kerja Sama Pembangunan Kanada (Global Affairs Canada)
Theresia Maria Florensia
Theresia Maria Florensia, SE., M.Ec.Dev
Kepala Bapperida Provinsi NTT
Jarot Indarto
Jarot Indarto, SP, MT, MSc, Ph.D.
Direktur Pangan dan Pertanian, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
Fransiskus Sales Sodo
Fransiskus Sales Sodo
Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur
III Serah Terima dan Penghargaan

Serah terima dokumen, penyerahan penghargaan, dan foto bersama

09.50 – 10.00 WITA

Kunjungan pameran dan jumpa pers

IV Sesi Paparan dan Dialog

Pembukaan Sesi dan Penjelasan Tata Laksana

10.00 – 10.05 WITA
F
Feri Johana
Pemandu sesi — ICRAF, WP-1 Leader Land4Lives

Babak 1 — Paparan Capaian Land4Lives di NTT

10.05 – 10.15 WITA
P
Yeni Nomeni
Provincial Coordinator NTT

Babak 2 — Tanggapan dan elaborasi

10.15 – 10.25 WITA
M
Muchamad Saparis Soedarjanto
Direktur Rehabilitasi Hutan, Kemenhut
T
Theresia M. Florensia
Kepala Bapperida Provinsi NTT
G
Dr. Gerson Njurumana
Peneliti BRIN
S
Drs. Seperius E. Sipa, M.Si
Sekretaris Daerah Timor Tengah Selatan
10.25 – 11.25 WITA
“Bagaimana semua capaian bersama akan dilanjutkan untuk menjaga ketangguhan iklim NTT?”

Satu kursi selalu dikosongkan; peserta dipersilakan mengisi secara bergilir.

NARASUMBER TETAP
B
Bapperida Provinsi NTT
J
Jekson Liubana
Petani champion
PEMANTIK
Y
Yoseph H. Dahat, S.IP., M.Ec.Dev
Kepala Bidang Ekonomi Bapperida Provinsi NTT
S
Semual K. Boru
Kepala KPH Timor Tengah Selatan
J
Jekson Liubana
Petani Teladan
L
Dr. Ludji Michael Riwu Kaho, M.Si
Forum DAS NTT
I
drg. Iien Adriany, M.Kes
Kepala DP3AP2KB Provinsi NTT
J
Jacobs Mercy Siubelan
Direktur Eksekutif KADIN NTT
PEMBICARA BERGILIR
S
Sulastri H. I. Rasyid, S.Pi., M.Si
Kepala DLHK NTT
N
Norman P. L. B. Riwu Kaho
Akademisi
D
Dince Rambu Wasak
Perwakilan generasi muda / mahasiswa
Y
Yomiani Radja
CSO Garamin
Y
Yus Kris Hauoni
Konsorsium Land4Lives — Krisna Foundation
J
Julius Ngongo
Manager Bisnis Mikro, BRI Cabang SoE

Babak 4 — Sintesis dan Kesimpulan

11.25 – 11.30 WITA

Pemandu sesi merumuskan sintesis dan kesimpulan.

Sintesis dan Penutup Substansi

11.30 – 11.45 WITA
D
Andree Ekadinata
Direktur ICRAF Program Indonesia-Landscape Alliance
V Penutup

Kunjungan Pameran, Makan Siang, dan Penutupan

11.45 – 13.30 WITA