IYB: Raih Grade B, Bone Jadi Rujukan Tata Kelola Perkebunan Berkelanjutan di Sulsel

Makassar — Sekitar 60 peserta dari unsur pemerintah provinsi dan kabupaten, akademisi, asosiasi petani, serta mitra pembangunan di Sulawesi Selatan menghadiri sosialisasi hasil uji coba Indikator Yurisdiksi Berkelanjutan (IYB) di Kabupaten Bone, yang berlangsung di Ruang Rapat Bappelitbangda Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar, Selasa (14/7). Hasil penilaian menunjukkan Bone mencatatkan skor yang termasuk Grade B, menjadikannya salah satu kabupaten dengan kesiapan tata kelola perkebunan berkelanjutan yang menonjol di provinsi ini.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menyelenggarakan kegiatan ini bersama Landscape Alliance (nama operasional CIFOR dan ICRAF), sebagai bagian dari proyek riset-aksi Land4Lives yang dilaksanakan bekerja sama dengan Pemerintah Kanada. Kegiatan ini menjadi ruang untuk menyampaikan hasil penilaian IYB Kabupaten Bone kepada pemangku kepentingan lintas sektor, sekaligus menyosialisasikan Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report) tingkat yurisdiksi yang disusun berdasarkan penilaian tersebut.

Menurut Plh Bappelitbangda Sulawesi Selatan Reza Faisal Saleh, IYB memberikan kerangka pengukuran yang komprehensif melalui tiga dimensi utama sehingga dapat menggambarkan keberlanjutan daerah yang lebih terukur. “Ini selaras dengan pembangunan yang kita jalankan, yakni pembangunan yang mendorong kualitas hidup masyarakat secara komprehensif,” ujarnya.

Reza menambahkan, temuan dari proses IYB, yang menunjukkan beberapa pencapaian, menjadi dasar untuk merumuskan kebijakan yang lebih tepat berbasis bukti. “Kami di Bappelitbangda berkomitmen untuk terus memfasilitasi pemberdayaan daerah dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan dalam perencanaan daerah,” dia menegaskan.

Skor keberlanjutan Bone

IYB menilai capaian keberlanjutan kabupaten dari tiga dimensi – lingkungan, sosial-ekonomi, dan tata kelola – dengan skala dari Grade D (perlu perhatian khusus) hingga Grade A (sangat baik). Dalam paparannya, Akifah Aksa dari Bappeda Bone selaku perwakilan tim teknis menjelaskan posisi Bone pada masing-masing dimensi. Kabupaten Bone memperoleh Skor IYB sebesar 0,61 atau Grade B, dengan rincian: Indeks Lingkungan (0,79), Indeks Sosial-Ekonomi (0,58), dan Indeks Tata Kelola (0,46).

Sesi tanya jawab menjadi bagian penting dari kegiatan ini,  ketika peserta dari berbagai sektor menyampaikan pandangan dan pertanyaan terkait hasil penilaian. Beberapa pertanyaan atau masukan dari peserta berkaitan dengan pemutakhiran data indikator, klarifikasi angka indikator yang nilainya masih perlu ditingkatkan, dan peran akademisi dan peneliti dalam memperkaya laporan keberlanjutan Kabupaten Bone.

Menanggapi pertanyaan peserta mengenai angka uji coba, Akifah dari Bappeda Bone menjelaskan alasan di balik beberapa indikator mendapat warna merah, yang mengesankan kinerja kurang baik pada area tersebut. Menurut Akifah, indikator merah bukan berarti buruk, melainkan pertanda ketiadaan data, meski kegiatannya sudah berjalan.

Adapun perwakilan dari tim teknis, yakni Andi Takdir dari Dinas LH dan Sukma dari Dinas TPHP, memberikan gambaran kondisi daerah yang menjustifikasi angka-angka yang diperoleh saat uji coba.

Terlepas dari angka yang diperoleh, Andi Ambaru Keteng dari Bappelitbangda Provinsi Sulawesi Selatan menilai pengalaman uji coba IYB Bone layak dibagikan ke daerah lain agar lebih siap mengimplementasikan IYB.

Selain menyampaikan hasil penilaian, kegiatan ini turut membahas sejumlah aksi prioritas yang telah dirumuskan pemangku kepentingan di Kabupaten Bone untuk memperkuat performa pada indikator-indikator yang masih perlu ditingkatkan. Hal utama yang hendak dilakukan dalam waktu dekat adalah pemutakhiran data uji coba berdasarkan masukan pada saat sosialisasi sehingga dapat merampungkan dokumen laporan keberlanjutannya.

Sesi ditutup oleh perwakilan Bappelitbangda Sulawesi Selatan dengan menyatakan beberapa catatan perbaikan pemutakhiran data laporan sebelum hasil laporannya diserahkan ke provinsi untuk menjadi acuan bagi kebijakan berbasis bukti.

Bone dalam peta IYB nasional

Sebagai kabupaten dengan tiga komoditas utama–kelapa, kakao, dan kopi–Bone memiliki peran strategis dalam rantai pasok komoditas berkelanjutan di Sulawesi Selatan. Bone menjadi satu dari empat kabupaten pilot penerapan IYB di Indonesia, bersama Kutai Timur, Sigi, dan Muara Enim, sebelum sistem ini diluncurkan secara nasional oleh Kementerian PPN/Bappenas pada Mei 2026.

Koordinator Landscape Alliance di Sulawesi Selatan M. Syahrir menjelaskan bahwa Landscape Alliance terlibat dalam pengembangan metodologi IYB, mulai dari perancangan indikator hingga sistem pengelolaan data, sehingga pengukuran keberlanjutan kabupaten dapat dilakukan secara konsisten dan berbasis bukti. Keterlibatan tersebut adalah bagian dari proyek riset-aksi Land4Lives.

“[Tujuan] Land4Lives di antaranya mendorong pembangunan perkebunan di Indonesia, salah satunya di Sulawesi Selatan, yakni bagaimana sektor perkebunan dapat berkelanjutan,” kata Syahrir.

Dia berharap, pengalaman Bone dapat menjadi rujukan bagi kabupaten lain di Sulawesi Selatan untuk mempersiapkan penerapan IYB, seiring menguatnya dorongan tata kelola perkebunan yang lebih berkelanjutan dari pasar internasional.

Bacaan lebih lanjut: